Sidang Kriminalisasi Petani : Saksi Jaksa Penuntut Umum Akui Ada Pondok dan Tanaman Warga Sebelum Beraktifitas

oleh -201 views

 

Kamis, 21/2/2019

Pasangkayu(tvsigi. com )  – Sidang lanjutan atas terdakwa Hemsi alias Frans, petani Kecamatan Riopakava Kabupaten Donggala yang dikriminalisasi oleh PT. Mamuang, kembali dilaksanakan pada senin 18/2/19 di Pengadilan Negeri Pasangkayu.

Dalam sidang pembuktian perkara tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Syakaria, dari Kejaksaan Negeri Pasangkayu menghadirkan 3 (tiga) orang saksi yang semunya merupakan karyawan PT. Mamuang. Yakni Irwan Dewa Matja, Ady Prasetyo Priyanto dan Rindu Siahaan.

Sidang yang dipimpin hakim ketua Estavana Purwanto, SH berlangsung alot karena beberapa saksi memberikan keterangan yang berubah-ubah. Saksi Irwan Dewa Matja (mandor panen PT. Mamuang) yang menjadi saksi pertama dihadirkan JPU misalnya, pada saat ditanyakan oleh JPU tentang apakah saksi melihat terdakwa di TKP, saksi menjawab “tidak melihat wajahnya dengan jelas karena jaraknya sekitar 50 meter dari tempat saksi berdiri”.

Namun keterangan tersebut berubah ketika ketua majelis hakim melakukan konfrontir antara keterangan saksi tersebut dengan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) saksi di penyidik kepolisian, “iya, itu di BAP adalah keterangan saya”, kata saksi seperti kebingungan.

Namun pada saat penasehat hukum terdakwa mempertanyakan hal yang sama, saksi Irwan Dewa Matja kembali meragukan keterangannya sebelumnya, saksi kembali merubah keterangannya “saya tidak yakin kalau itu terdakwa karena saya hanya melihat belakangnya saja”.

Sementara itu, berkaitan dengan kepemilikan lahan di tempat kejadian perkara (TKP), 3 orang saksi memberikan pernyataan yang hampir sama. Saksi Irwan Dewa Matja mengatakan bahwa di lokasi tersebut terdapat pondok namun saksi tidak tau pemiliknya.

Sementara saksi Rindu Siahaan mengaku sebagai orang perusahaan yang membuka lahan di lokasi , “saya yang memimpin pembukaan lahan di lokasi yang saat ini dikenal dengan charlie 26 dengan menggunakan peralatan sederhana seperti parang, sedangkan alat berat hanya digunakan untuk membuat parit saja”.

Ketika ditanya soal tanaman yang tumbuh di lokasi , saksi rindu mengatakan bahwa saat pertama masuk di lokasi, saksi melihat ada tanaman sagu. “saat bekerja kami diganggu oleh kelompok masyarakat yang salah satu anggotanya adalah terdakwa, mungkin itu tanahnya” tutup Rindu menjawab pertanyaan majelis hakim soal ada tidaknya klaim lain- lain lokasi tersebut.

Sementara itu saksi Adi praseetyo juga melihat bahwa sebelum penanaman dilakukan perusahaan, di lokasi tersebut terdapat pisang dibagian selatan TKP dan ada pondok yang saksi tidak tau siapa pemiliknya namun menurut saksi itu bukan milik perusahaan karena bangunan pondoknya sudah keliatan lama.

Menanggapi keterangan saksi Rindu, terdakwa Hemsi yang sejak awal sidang sangat tenang, tiba-tiba suaranya meninggi dan serak, “saya keberatan dan menolak keterangan saksi yang mulia, saksi berbohong, pada saat saksi masuk ke lokasi kami tahun 2006, sudah ada tanaman milik kami seperti jagung, coklat dan lain-lain. Saksi ini yang memimpin karyawan dan dikawal aparat memporak porandakan semua tanaman kami,” terang terdakwa sambil menangis.

Harun, penasehat hukum terdakwa setelah usai sidang menyatakan “dari keterangan saksi tadi terungkap fakta bahwa jauh sebelum perusahaan datang, sudah ada masyarakat yang mendiami lokasi tersebut, mereka membuat pondok kemudian perusahaan datang mengklaim lokasi tersebut.

Selain itu, ada indikasi keterlibatan aparat, mereka dimaanfkan untuk mengintimidasi masyarakat. Dengan fakta ini kami semakin yakin bahwa lokasi tersebut berada di luar wilayah konsesi PT. Mamuang kami tantang JPU untuk membuktikan sebaliknya”. Tegas Harun

Sidang tersebut ditutup pukul 17.12 dan akan dilanjutkan pada hari kamis tgl 21/2, masih dengan agenda pembuktian dari JPU. “kami masih memiliki 2 saksi fakta dan 2 ahli dari BPN”, ungkap JPU Syakaria.

Pasangkayu 18/2/2019

Siaran Pers :  Harun, SH